Layanan dunia dan Layanan akhirat

Akhir minggu ini berasa sekali artinya, 2 moment penting yang harus diikuti dan sangat bermakna

Sabtu kemarin adalah pernikahan putri dari salah satu pejabat yang kebetulan pimpinan di kantor. Dan mamie sangat menghargai beliau.

Walaupun beberapa waktu lalu mamie memutuskan untuk tak datang di pesta yang pasti ramai dengan tamu-tamu penting, dan orang-orang ‘besar’, alasannya sederhana. Mamie ingin mendoakan dari jauh saja, karena hadir pun tidak akan memberikan nilai lebih kepada keluarga yang punya kedudukan terpandang di masyarakat tersebut

Tetapi tugas dadakan muncul pada last minute, mamie harus membacakan ucapan selamat dari Jepang. Berbagai usaha membujuk staff Jepang agar orang lain saja yang membacakannya tidak berhasil. Mamie merasa kurang pas saja menjadi wakil dari para boss menyampaikan ucapan tersebut, tetapi mereka cuma bilang ‘onegaishimasu’

Tidak ada jalan lain, mamie harus mengorbankan waktu yg dimana seharusnya mamie sediakan untuk melaksanakan takazah (tugas pelayanan) yaitu berhikmad untuk makan malam jamaah masturoh yang datang dari Malaysia.
Dengan tidak enak hati, mamie pamit kepada teman2 yang datang ke rumah untuk memasak menyiapkan santap malam para tamu Allah.

Sepanjang perjalanan gelisah, antara melaksanakan layanan dunia atau layanan akhirat (kerja untuk agama). Tetapi mamie sudah terlanjur mengiyakan kepada staff Jepang dan itu adalah tugas.

Pada saat acara ternyata tidak semulus yang mamie duga, penolakan dari koordinator acara mamie terima. Tetapi terus terang mamie cuma bertanya seperti ini: “Bisa tidak membaca ucapan ini? Jika iya katakan kapan? Jika tidak saya pulang”, so simple menurut mamie, artinya mamie sudah berusaha, sebatas kemampuan. Tetapi rupanya EOnya juga bingung, tapi diantara kebimbangan dia akhirnya mengiyakan karena memang mamie cuma menyampaikan bahwa usulan membaca ucapan ini disampaikan sendiri oleh beliau, orangtua dari mempelai

Suprisingly, mamie sangat tidak terkesan dengan berapa banyak para tamu yang ada di depan mamie, membacakan ucapan dengan santai dan tak terpengaruh dengan keadaan. Alhamdulillah mamie bisa menafikan segala yg ada hanya karena yang namanya amanah

Tetapi yang lucu setelah acara, sang EO itu malah komplain ke mamie, katanya “bu, saya dikomplain keluarga mempelai karena ini tidak ada dalam list acara”
*gubrak*
sejauh mana sih sang EO ini mengambil keputusan dan bertanggungjawab dengan keputusan ini? Mamie kan memberikan pilihan sebelumnya, bisa atau tidak!
Emosi juga akhirnya, bukan apanya.. Mamie sudah meninggalkan kesempatan melayani tamu Allah dan melaksanakan amanah dunia ini
Tapi memang THIS IS the ANSWER

Hal yang bisa mamie dapatkan malam itu adalah:
1. Amanah dunia ternyata tidak menjamin kita menjadi tenang, masih akan terpengaruh dengan pendapat dan persepsi orang lain. Dan sebaik apapun tugas kita laksanakan bisa jadi jelek bagi orang lain. Lalu siapa yang bertanggung jawab untuk itu? Orang yang menyuruh? Sejauh mana? Sepanjang masih mahluk mamie tidak bisa menjamin hal ini

2. Tugas hikmad yang mamie abaikan memberikan pelajaran yang sangat berharga. Mamie kehilangan kesempatan untuk merasa tenang. Melayani orang lain karena Allah, adalah sangat menyejukkan hati. Seletih apapun itu
Karena yakin dengan, jaminan yang Allah berikan atas dasar melakukan agar mendapat ridho dari Allah SWT bukan dari mahluk

3. Mamie merasa malu dengan pilihan bahwa mamie bisa menafikkan dunia hanya untuk tujuan dunia, mengapa mamie tidak bisa melakukan tugas amar ma’ruf nahi mungkar untuk mendapatkan ridho Allah, kasih sayang yang Maha Kuasa. Dipermalukan atas nama Allah, yakin bahwa jaminan Allah tidak akan diingkariNya

4. Dan sepertinya Allah menegur mamie dengan pilihan ini, dengan keadaan yang membuat mamie tidak nyaman. Ya Allah ampuni hambamu ini.

5. Barangsiapa bekerja untuk mahluk maka siap2lah dihinakan, tetapi barangsiapa bekerja untuk Allah maka akan dimuliakan. Kalimat pertama sudah mamie buktikan, dan kalimat yang kedua adalah mamie yakini.

Terakhir mamie cuma bisa berharap semoga Allah memberikan kesempatan untuk melaksanakan takazah agar kesempatan untuk mendapatkan ridho Allah bisa mamie peroleh. Insya Allah

Semoga berkesan dalam hati dan niat amal dan sampaikan insya Allah

Subhahanallah Wabihamdihi, Subhahanakallahuma Wabihamdika, Ashyadu alaa ilaa ha ilaa anta, astaghfiruka wa atubuu ilaih

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s