Catatan liburan @ kodingareng keke

Berlibur bersama keluarga besar AngingMammiri bukan hal yang pertama, tetapi kali ini adalah liburan pertama di pulau kodingareng keke

Pulau yang 2x jarak pulau Samalona ini ditempuh kurang lebih 45 menit dengan kapal motor yg disewakan di pelabukan kayu bangkoa. Karena keluarganya memang ‘besar’ kami butuh 3 kapal untuk bisa mengantar dan menjemput di pulau kodingareng keke ini

Ini juga kali pertama saya menginjakkan kaki di pulau tersebut, tak berpenghuni dan memiliki air yang jernih. Sayangnya saya tidak ‘diperbolehkan’ untuk berenang saat ini. Kata Iqko, kalau saya berenang bisa-bisa ikan hiu pada datang :p

Menghindari rasa iri melihaat teman-teman semua berenang, saya menyempatkan diri ber’sosialisasi’ dengan pengunjung2 yang lain yang datang ke pulau ini. Mereka sangat siap dengan pesta ikan bakarnya, berbeda dengan kami2 yang entah sepakatnya dari mana hampir semua bawaannya nasi kuning 😀

Sambil membakar ikan, orang yang rupanya penduduk pulau Kodingareng (tanpa keke yah, artinya beda pulau) yang letaknya di sebelah utara pulau kodingareng keke ini bercerita.

2 tahun lalu bangunan semi permanen berdiri di pulau itu dan bangunan itu dibuat oleh warga negara asing yang kurang jelas kebangsaannya apa. Namun karena harus pulang ke negaranya rumah tersebut dititip kepada salah seorang penduduk pulau kodingareng, dia lah si bapak yang membantu membakar ikan tersebut.

Memang 2 tahun lalu sempat terjadi badai besar di kepulauan ini. Saya masih ingat villa pak Nurdin, bupati Bantaeng yang dibangun di pulau Samalona digerus ombak badai saat itu. Hal ini juga terjadi dengan bangunan yg dibangun di pulau Kodingareng keke tersebut.

Yang tertinggal hanya puing karena isi-isinya pun hilang. Jika yang di pulau Samalona diselamatkan oleh pemiliknya sendiri, yang di pulau ini diselamatkan oleh orang lain dan jadi hak milik mereka 🙂

Sayang juga melihat puing-puing yang tersisa, masih terpikir jika bangunan tersebut ada kemungkinan kita bisa lebih asyik untuk menikmati liburan dengan fasilitas yang ada, dan kemungkinan orang-orang akan banyak datang ke sana.

Tetapi kemudian terpikir lagi, jika ramai dikunjungi orang akan kah pulau ini akan bertahan dari kerusakan? Kenapa pula banyak hal yang disentuh oleh manusia dengan tujuan memanfaatkan tapi jadinya malah merusak?

Satu contoh, ikan-ikan yang lucu sangat mudah ditangkap, memang menyenangkan untuk dilihat, tapi hak kita sebatas melihat dan menikmati. Tidak berhak menangkap, membawa pulang lalu mati.

Dengan pengalaman liburan ini saya cuma berusaha mengenalkan anak saya tentang keindahan ciptaan Allah dan batasan hak kita sebagai manusia.
Semoga menjadi kesadaran kita semua Amin


Advertisements

13 thoughts on “Catatan liburan @ kodingareng keke

    • iyye, nasuka karena ada kakak anbar yang senantiasa menggendong saat berenang, *membayangkan kakak yang bilang: kakak anbhar gendongka juga* wkkkkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s