Kesan = Kebenaran? Think Twice!

Beberapa waktu belakangan ini saya banyak berpikir tentang kenyataan. Kalau menilik dari judul postingan ini saya menganggap apa yang nyata itulah yang benar. Sering kali kita dipengaruhi oleh kesan, apa yang kita tangkap melalui panca indera kita begitulah pula kita menilai kenyataan tersebut.

Ada beberapa contoh yang akhirnya membuat saya belajar ‘mengesampingkan’ kesan. Baru-baru ini ada cerita dari teman yang mengatakan bahwa salah seorang suami dari teman kami yang lain beristri lagi. Yah.. biasalah perbincangan gosip ini memang susah dihalau saat ini. Walaupun saya cuma mendengarnya saya tidak bermaksud memberikan komentar terhadap apa yang terjadi dengan teman tersebut. Judulnya sih takut kualat, karena saya yakin setiap pikiran dan ucapan yang kita hasilkan itu akan berbalik kepada kita juga. Dari cerita ‘gosip’ ini saya cuma mau mengambil pelajaran tentang kesan. Kesan yang selama ini timbul dari moment-moment yang kita persepsikan sendiri menghasilkan satu kata yang keluar dari mulut teman-teman yang lain “TIDAK MUNGKIN”

Tetapi itulah kenyataan, kebenaran yang terjadi. Tetapi saya menganggap ini masih satu episode saja dalam hidup seseorang. Kita tidak mungkin bisa menjudge apa yang terjadi, bagaimana itu bisa terjadi dan sebagainya. Saya cuma berusaha belajar bahwa persepsi atau kesan yang timbul itu harus saya hindari agar saya tidak kaget jika menemukan keadaan yang sebenarnya.

Seseorang teman yang sampai sekarang mungkin akan tetap tidak menyukai saya karena saya merasa yakin bahwa dia masih penuh dengan persepsi, kesan yang dia dapatkan sendiri dengan olahan informasi dan pemikirannya. Tetapi saya tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan saja hingga kenyataan itu muncul. Saya juga tidak berharap lebih, karena kesan itu adalah hak dari masing-masing pribadi.

Pernah juga saya bertanya kepada suami tentang salah seorang teman yang jika bertemu dengannya, dia seakan enggan bertegur sapa. Dan saya bertanya tentang hal itu, dia berkata saya memang tidak suka dan saya tidak sejalan dalam pemikiran. Sedih juga rasanya. Tetapi saya tidak bisa komplain atau marah, karena itu hak suami, hak pribadi dia terhadap orang lain. Saya tidak bisa memaksa untuk dia bisa menyukai orang lain.

Dengan kejadian kejadian ini saya harus lebih banyak mengontrol diri saya untuk tidak ‘termakan’ dengan kesan. Karena bisa jadi itu tidak benar. Apalagi jika hal itu negatif. Saya akan berusaha untuk mengarahkan ke hal positif saja apa-apa yang terjadi disekitar saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s