You Never Know Unless You Try

Untuk sesuatu yang baru kita kadang diliputi keraguan, apakah saya bisa? Jika sesuatu terjadi apa yang harus saya lakukan?

Seorang teman yang sedang mencari pekerjaan, berkata kepada mamie, tolong yah mamie kalau ada info, kasih tau yah.
Kalimat itu simple sebenarnya, untuk memberi info mamie pikir semua orang bisa, tetapi sampai pada proses selanjutnya apakah kita “berani untuk mencoba?”

Mamie, apa saya bisa apply di posisi itu? – ini jawaban yang dilontarkan ketika mamie memberi info. Benarkan?
Rata-rata jika kita sudah dihadapkan pada pilihan yang sebelumnya kita cari-cari malah jadinya kehilangan keberanian.

Di Jakarta ini, walaupun dengan kesyukuran yang tiada tara terhadap kesempatan yg diberikan oleh Allah untuk hidup yang bagi sebagian orang terasa berat, mamie justru mendapat banyak pengalaman.
Tidak seperti di Makassar, yang semuanya serba “tahu”. Mau ke sana ke mari tidaklah sulit. Padahal kalau kita mau berpikir, pasti saat awal “mengenal” kota ini pasti ada proses. Hanya saja kita tidak menyadarinya.
Kita merasa tiba-tiba saja tahu. Dan hal itu yang membuat kita ragu untuk pergi ke tempat yang baru yang serba tidak tahu

The less you know the more you believe – bono, twit dari Oprah sangat membuat mamie menyadari tentang hal ini.
Benar saja saat mamie harus sendiri memulai hidup di kota ini, yang mamie percaya hanya petunjuk Allah. Karena ketidak tahuan akan sekitar membuat mamie lebih yakin kepada Allah, bahwa Allah sudah mengatur semuanya.
Alhamdulillah, dengan asbab bantuan dari teman-teman, orang-orang yang baru mamie kenal, sedikit demi sedikit pengetahuan ini bertambah.

You never know unless you try
Dan setiap kesempatan akan berlalu begitu saja jika kita tidak mengambilnya. Prinsip mamie saat ini adalah jika saya tidak mencoba saya tidak akan tahu bahwa saya betul atau salah, berhasil atau tidak.
Hidup ini adalah kumpulan kesempatan, jika kita mengabaikannya karena ragu, jangan harap kita dapat hidup dengan ‘kaya’ pengalaman.

Satu hal saja yang mamie harapkan, semoga pengalaman ini justru mengantarkan mamie kepada keyakinan lebih terhadap Sang Pencipta, karena bagaimana pun keadaan itu memang sudah merupakan ketetapan dari Allah, tinggal kita menggunakan pendengaran, penglihatan dan hati untuk bisa memaknai hidup ini.

Never think hard about past, It brings tears.
Don’t think more about future, It brings fears.
Live this moment with a smile, It brings cheers…

Advertisements

Untuk Ke-2 Kalinya, Jatuh Di Lubang Yang Sama

Sesal benar rasanya, beginilah kalau kesalahan yang sama dilakukan lagi dan akibatnya fatal :

Tabrakan!

Yang pertama di jalan A.P Pettarani setahun yang lalu. saat itu memang macet dan saya bersama anak-anak, jihad dan amdan yang waktu itu kalau tidak salah mau ke toko Agung untuk membeli alat tulis.
Mendengar suara ipin dan upin yang saya set sebagai message tone, otomatis tanpa dikomando saya langsung merogoh isi tas. Tak disangka saat itu mobil panther di depanku berhenti tiba-tiba, dan ‘brakkk!!’
Ya Allah saya pasti menabrak.
Sebelum orangnya marah, saya langsung keluar dari mobil dengan muka memelas memohon maaf. Memang saya salah.
Mungkin bapak itu kasihan melihat saya dengan anak 2 yang masih kecil-kecil, dia bilang gak apa-apa bu, yang penting diperbaiki.

Alhamdulillah, saya tinggal menitipkan kartu nama dan selesai masalah setelah bumper mobil tersebut di kerja di bengkel zeroone, bengkel kami.

Waktu itu rasa sesal memang ada, tapi hari ini sesalnya berlipat ganda.

Pulang terburu-buru karena sudah maghrib dan kuatir akan anak-anak di rumah, saya melajukan mobil zig zag hingga sampai di daerah tello.
Karena jalan tidak terlalu padat, enak saja mobil ini dikendarai dengan gaya seperti pembalap F1.
Sayangnya sesampai di Antang, keadaan trafficnya tidak sama. Seperti biasanya jam segitu macet! Antrian kendaraan mulai terlihat sekitar 40-50 meter sebelum belokan masuk Bukit Baruga.

Entah karena kaki ini yang keasikan menekan pedal gas, jalanan yang lumayan menurun, atau teralihkan perhatian karena ada bunyi sms lagi yang masuk
Dan.. Brakkk!!!
Mobil honda city hitam didepanku pun bumpernya penyok dan kap bagasi terangkat.
Ya Allah, nabrak lagi deh!

Berusaha tenang, Jurus yang sama saya gunakan yaitu, turun dengan muka memelas dan memohon maaf.
Tapi… Rupanya tidak semua yang melihat mukaku menjadi kasihan. Saya tetap dapat marah dari orang itu.
Yah… Bapak yang berusia sekitar 55 tahunan tersebut marah-marah. Setiap saya berbicara pasti ditimpali dengan emosi.

Saya ingat salah satu pernyataan yg pernah disampaikan oleh salah satu motivator marketing, jika ada client yang komplen, biarkan saja dia berbicara, jangan dibantah sampai dia reda sendiri, karena semakin kita menimpali, itu sama saja dengan menyiram bensin di perapian.

Maka diamlah saya sambil mendengarkan bapak itu marah-marah.

“Saya orang di sini!”, sahutnya
“Saya juga orang sini pak!”, eh tapi ini cuma dalam hati, kalau lepas bisa dikeplak

Pokoknya apa pun yang bapak itu bilang saya cuma iyah, iyah, iyah saja
Alhasil amarahnya mereda dan bilang, ayo sama-sama ke rumah ibu.

Tanpa babibu saya cuma bilang “mari pak”

Setelah sepakat menuju rumah, kami yang sempat parkir dipinggir meminta jalan untuk bisa jalan lagi. Si bapak ini dengan mulus meminta jalan, tetapi saya tidak.
Biarpun lampu weser sudah saya nyalakan dan meminta jalan tetap saja mobil disebelahku mepet, tidak mau memberi space.
Mungkin saat-saat biasa saya mengalah, tapi kali ini tidak!
Saya berusaha untuk dapat jalan karena kuatir ketinggalan oleh bapak itu.
Dan karena ngotot tidak memberi jalan, akibatnya…srreeeeettt.
Terasa sekali bahwa pasti tergores, dan saya sih siap saja dengan kejadian ini. Tetapi rupanya orangnya tidak berhenti dan turun, kemungkinan juga dia tidak menyadari.

Begitu sampai di rumah langsung saya mengecek goresan itu.
Mantap! Cat mobil orang itu menempel di mobilku. Yah sebenarnya kasihan juga rasanya kepada dia tapi dianya yang tidak mau mengalah dengan kondisi saya yang lagi bermasalah. Tidak ada empathy sama sekali.

Beradu gesekan dengan livinaku kemungkinan besar mobil orang lain yang akan bermasalah. Alasannya clear yang dipakai si livi itu clear tebal dan kuat sehingga saya akan cukup memoles saja tapi dia tidak harus dengan dicat ulang

Singkat cerita saya akhirnya berbicara ulang dengan bapak itu dan again, kartu nama dengan mulus saya berikan.

Insya Allah besok atau lusa bapak itu akan ke bengkel untuk memperbaiki mobilnya. Walaupun sempat dia bilang, akan lihat bengkel dulu jika tidak dia akan minta pindah ke bengkel lain. Takutnya pekerjaannya abal-abal saja.
Wah berarti bersiap-siap untuk claim asuransi jika dia menunjuk bengkel lain.

Doain yah, semoga ini menjadi pelajaran bagi saya dan lebih berhati-hati lagi dalam berkendara dan semoga kejadian ini tidak menimpa teman-teman semua.
Amiinn