Kesan = Kebenaran? Think Twice!

Beberapa waktu belakangan ini saya banyak berpikir tentang kenyataan. Kalau menilik dari judul postingan ini saya menganggap apa yang nyata itulah yang benar. Sering kali kita dipengaruhi oleh kesan, apa yang kita tangkap melalui panca indera kita begitulah pula kita menilai kenyataan tersebut.

Ada beberapa contoh yang akhirnya membuat saya belajar ‘mengesampingkan’ kesan. Baru-baru ini ada cerita dari teman yang mengatakan bahwa salah seorang suami dari teman kami yang lain beristri lagi. Yah.. biasalah perbincangan gosip ini memang susah dihalau saat ini. Walaupun saya cuma mendengarnya saya tidak bermaksud memberikan komentar terhadap apa yang terjadi dengan teman tersebut. Judulnya sih takut kualat, karena saya yakin setiap pikiran dan ucapan yang kita hasilkan itu akan berbalik kepada kita juga. Dari cerita ‘gosip’ ini saya cuma mau mengambil pelajaran tentang kesan. Kesan yang selama ini timbul dari moment-moment yang kita persepsikan sendiri menghasilkan satu kata yang keluar dari mulut teman-teman yang lain “TIDAK MUNGKIN”

Tetapi itulah kenyataan, kebenaran yang terjadi. Tetapi saya menganggap ini masih satu episode saja dalam hidup seseorang. Kita tidak mungkin bisa menjudge apa yang terjadi, bagaimana itu bisa terjadi dan sebagainya. Saya cuma berusaha belajar bahwa persepsi atau kesan yang timbul itu harus saya hindari agar saya tidak kaget jika menemukan keadaan yang sebenarnya.

Seseorang teman yang sampai sekarang mungkin akan tetap tidak menyukai saya karena saya merasa yakin bahwa dia masih penuh dengan persepsi, kesan yang dia dapatkan sendiri dengan olahan informasi dan pemikirannya. Tetapi saya tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan saja hingga kenyataan itu muncul. Saya juga tidak berharap lebih, karena kesan itu adalah hak dari masing-masing pribadi.

Pernah juga saya bertanya kepada suami tentang salah seorang teman yang jika bertemu dengannya, dia seakan enggan bertegur sapa. Dan saya bertanya tentang hal itu, dia berkata saya memang tidak suka dan saya tidak sejalan dalam pemikiran. Sedih juga rasanya. Tetapi saya tidak bisa komplain atau marah, karena itu hak suami, hak pribadi dia terhadap orang lain. Saya tidak bisa memaksa untuk dia bisa menyukai orang lain.

Dengan kejadian kejadian ini saya harus lebih banyak mengontrol diri saya untuk tidak ‘termakan’ dengan kesan. Karena bisa jadi itu tidak benar. Apalagi jika hal itu negatif. Saya akan berusaha untuk mengarahkan ke hal positif saja apa-apa yang terjadi disekitar saya.

Puisi Ombak

Hari ini mamie ke sekolah JiDan untuk mengurus kartu ujian semester anak-anak
Sambil menunggu bagian administrasi sekolah iseng-iseng mamie baca beberapa tulisan di majalah dinding sekolah dan mata saya tertuju ke puisi seperti ini :

Tentang Ombak – Ana

Kalakau menyentuh kakiku
Kau memberiku ketenangan
Kau bergulung ke pantai tiada henti
Seakan tak meilati bibir pantai

Mengingatkanku untuk tak kenal lelah
Menapaki hidup ini
Buih buihmu terlahir dari kesabaranmu
Terus menerus berjalan menuju pantai

Mengingatkanku untuk terus memelihara
Kesabara, seberat apapun rintangan dalam hidupku
Sejauh apapun gelombangmu pergi
Menuju laut lepas

Kau akan kembali bergulung
Menuju pantai mengingatkanku
Bahwa sejauh apapun kakiku
Melangkah aku harus kembali

Sebenarnya ini seperti puisi-puisi yang lain, tetapi kenapa pula saya merasa tergugah?

Disaat sekarang saya merasa ‘capek’ dalam hidup, puisi ini datang dihadapanku menyajikan gambaran ombak yang istiqomah dalam kesabaran dan usaha.

Tak kenal ‘lelah’ menapaki hidup ini, seperti ombak, seharusnya kita pun seperti itu.
Seketika itu pula saya merasa seperti orang yang bersalah. Betapa saya tidak menghargai hidup yang saya miliki sekarang.
Mungkin memang kekecewaan bisa terjadi beruntun, tetapi seharusnya kita tidak boleh capek atau bahkan kecewa dengan hidup ini.
Semoga jika saya capek lagi, ombak ini akan mengingatkan saya tentang usahanya yang tiada ada kata letih.

Semangat!

Catatan liburan @ kodingareng keke

Berlibur bersama keluarga besar AngingMammiri bukan hal yang pertama, tetapi kali ini adalah liburan pertama di pulau kodingareng keke

Pulau yang 2x jarak pulau Samalona ini ditempuh kurang lebih 45 menit dengan kapal motor yg disewakan di pelabukan kayu bangkoa. Karena keluarganya memang ‘besar’ kami butuh 3 kapal untuk bisa mengantar dan menjemput di pulau kodingareng keke ini

Ini juga kali pertama saya menginjakkan kaki di pulau tersebut, tak berpenghuni dan memiliki air yang jernih. Sayangnya saya tidak ‘diperbolehkan’ untuk berenang saat ini. Kata Iqko, kalau saya berenang bisa-bisa ikan hiu pada datang :p

Menghindari rasa iri melihaat teman-teman semua berenang, saya menyempatkan diri ber’sosialisasi’ dengan pengunjung2 yang lain yang datang ke pulau ini. Mereka sangat siap dengan pesta ikan bakarnya, berbeda dengan kami2 yang entah sepakatnya dari mana hampir semua bawaannya nasi kuning 😀

Sambil membakar ikan, orang yang rupanya penduduk pulau Kodingareng (tanpa keke yah, artinya beda pulau) yang letaknya di sebelah utara pulau kodingareng keke ini bercerita.

2 tahun lalu bangunan semi permanen berdiri di pulau itu dan bangunan itu dibuat oleh warga negara asing yang kurang jelas kebangsaannya apa. Namun karena harus pulang ke negaranya rumah tersebut dititip kepada salah seorang penduduk pulau kodingareng, dia lah si bapak yang membantu membakar ikan tersebut.

Memang 2 tahun lalu sempat terjadi badai besar di kepulauan ini. Saya masih ingat villa pak Nurdin, bupati Bantaeng yang dibangun di pulau Samalona digerus ombak badai saat itu. Hal ini juga terjadi dengan bangunan yg dibangun di pulau Kodingareng keke tersebut.

Yang tertinggal hanya puing karena isi-isinya pun hilang. Jika yang di pulau Samalona diselamatkan oleh pemiliknya sendiri, yang di pulau ini diselamatkan oleh orang lain dan jadi hak milik mereka 🙂

Sayang juga melihat puing-puing yang tersisa, masih terpikir jika bangunan tersebut ada kemungkinan kita bisa lebih asyik untuk menikmati liburan dengan fasilitas yang ada, dan kemungkinan orang-orang akan banyak datang ke sana.

Tetapi kemudian terpikir lagi, jika ramai dikunjungi orang akan kah pulau ini akan bertahan dari kerusakan? Kenapa pula banyak hal yang disentuh oleh manusia dengan tujuan memanfaatkan tapi jadinya malah merusak?

Satu contoh, ikan-ikan yang lucu sangat mudah ditangkap, memang menyenangkan untuk dilihat, tapi hak kita sebatas melihat dan menikmati. Tidak berhak menangkap, membawa pulang lalu mati.

Dengan pengalaman liburan ini saya cuma berusaha mengenalkan anak saya tentang keindahan ciptaan Allah dan batasan hak kita sebagai manusia.
Semoga menjadi kesadaran kita semua Amin


For my brother

Allah Maha Mengatur, termasuk dari kapan kita lahir hingga roh ini berpisah dari jazad.
Kehidupan hanya akan tinggal menjadi kisah saat raga kita sudah kembali ke asal yaitu tanah.

Sedih mengantar kepergian koko Sinhon, papa angkat dari putriku satu-satunya Cindy
Dia yang dengan usahanya sebagai pengganti ayahnya yang telah berpulang lebih dahulu ke hadirat Allah. Membesarkan adik dan anak-anaknya termasuk anakku.

Lelaki ulet dan penuh tanggung jawab. Di hari terakhir saya masih bercakap dalam ketidak berdayaannya dan pernyataannya adalah:
“Lihatlah saya tak berdaya, tidak bisa lagi melakukan apa-apa untuk keluarga”

Ko… Allah Maha Adil
Koko terlalu bekerja keras untuk kehidupan keluarga, dan Allah Maha Pengasih
Allah tidak mau lagi membiarkan koko hidup dengan keras lagi. Semua kenyataan yang terjadi adalah kehendakNya, dan pasti baik adanya.

Selamat jalan ko, kita berpisah juga cuma masalah waktu. Kami-kami pun akan menyusul entah kapan, hanya Allah yang tahu.
Doa sepenuh hati saya panjatkan untuk jiwa koko, semoga tenang dan damai di alam sana.
Hal yang terjadi dalam kehidupan adalah episode pembelajaran saja, amalan yang koko lakukan semasa hidup sangat berguna untuk kami-kami semua.

Aku maafkan semua hal-hal yg berat di hati sejak dulu, pergilah dengan tenang. Allah akan menyayangi koko melebihi kasih sayang koko terhadap orang-orang terkasih di dunia.

Selamat jalan koko.. Damai dan tetramlah disisi Allah.
Amiiinnn

Bloglicious, manfaat lebih untuk blogger

Gimana rasanya yah melakukan hobby dan dapat duit? Manfaat berlipat ganda inilah yang sebenarnya ditawarkan http://idblognetwork. Teman-teman yang memiliki blog yang sebenarnya awalnya cuma sekedar hobby berpeluang untuk mendapat penghasilan. Sudah pasti pilihan yang menarik Bloglicious fun makassar, menjadi ajang berkumpulnya para blogger yang mencari nilai lebih dalam berblogging

Itulah inti yang ingin disampaikan kepada peserta Bloglicious yang diadakan di 7 kota yaitu, Surabaya, Makassar,, Medan, Palembang, Jogjakarta, Bandung dan Jakarta.

Dari rundown acara, materi-materi yang disampaikan berurutan yang pada endingnya diharapkan bisa membuat teman-teman paham tentang blog dan mengerti akan manfaat blog tersebut.

Peserta Bloglicious fun makassar sekitar 150 orang terlihat antusias dalam mengikuti semi workshop ini. Para narasumber yang menyajikan materi adalah pakar di bidangnya masing-masing dan menguasai bahannya, dan beruntung bagi peserta karena mendapat wawasan tambahan yang bermanfaat dalam mengoptimalkan blog2 yang dimiliki.

Bagi saya, selama ini blog cuma sebagai tempat untuk menuangkan pemikiran dan pengalaman saja, tetapi setelah mengikuti semiworkshop ini menjadikan saya harus melakukan sesuatu: saya ibaratkan blog itu adalah penampilan saya, sebagai mana kita menjaga penampilan diri sendiri harusnya itu pula yang harus kita lakukan di blog kita
Seperti themes juga layaknya pakaian, seperti content adalah isi dari pikiran dan hati kita, cara kita menulis dan memilih kata itu pun menjadi gambaran etika secara keseluruhan pribadi kita, Dengan berpikir demikian saya berniat untuk merawat blog saya lebih serius.

Seperti dalam dunia kerja, kita akan dipekerjakan sesuai dengan penampilan, etika, pemikiran dan segala kemampuan yang kita miliki, begitu pula blog
Blog yang bagus nantinya akan menjadi media untuk bisa ‘bekerja’

Semoga teman-teman semua bisa mendapatkan manfaat dan lebih serius lagi dalam ber-blog

You are what you wrote!

Terimakasih untuk idblognetwork, panitia dari AngingMammiri, komunitas blogger Makasar, adik2 dari FISIP Unhas yang telah mengadakan Bloglicious fun makassar, Semoga acara ini memberikan manfaat bagi kita semua.

Happy Bloglicious fun makassar, ! Kita tunggu hasil dari teman2 semuanya.. SEMANGAT!!

Semuanya punya arti

Beberapa waktu terakhir ini, ditinggal sendiri karena suami keluar 40 hari untuk khuruj, mamie justru banyak merenung.

Kejadian-kejadian yang ‘memaksa’ mamie untuk berpikir dan mencari tau apa makna disetiap kejadian itu

Sebelumnya memang abi, sudah sering mengeluh tentang urusan bersih-bersih rumah yang selama ini kami minta bantuan dengan kerabat kami. Tetapi adalah abi yg komplainnya ke mamie tapi tidak langsung ke orangnya.
Yang ada mamie yang repot mendeliver pesannya.

Sempat terpikir, ah sebaiknya mamie aja yang bersihin rumah, masak dsb. Sekalian niat untuk hikmad sehingga punya kesempatan utk bisa beramal kepada keluarga. Namun bagaimana mengatakan ini langsung ke orangtnya, susah deh rasanya.

Abi pergi sudah seminggu lewat, dan beberapa hari lalu, ibu dari kerabat yg kerja itu datang dan mengatakan bahwa dia ingin berhenti karena ada usaha yang harus dijalankan.
Masya Allah, mamie jadi kaget juga karena sedikit banyak sesuai dengan harapan mamie

Sempat juga kuatir tentang bagaimana nanti mamie bisa ngatur waktu. Sementara boss lagi ada di Indonesia. Alhamdulillah
Berkat kerjasama dengan anak-anak mamie sudah mulai bisa mengatasi urusan rumah tangga ini. Malahan lebih puas, walaupun konsentrasi jadi terbagi

Dan Insya Allah jika ada kejadian2 menyusul pun, mamie yakin itu memang sudah tertulis dalam alam rahim, dan adalah tugas mamie untuk mencari makna dan senantiasa bersyukur dengan pelajaran hidup ini.

Ini sebenarnya salah satu keuntungan jika suami keluar untuk menjalankan perintah Allah dakwa dan tabligh
Mamie jadi bisa lebih banyak introspeksi, muhasabah, dan memutuskan sesuatu yang Insya Allah merupakan petunjuk Allah azza wa jalla.
آمِيـنَ آمِيـنَ …يَرَبَّلْ علَمِّين

Layanan dunia dan Layanan akhirat

Akhir minggu ini berasa sekali artinya, 2 moment penting yang harus diikuti dan sangat bermakna

Sabtu kemarin adalah pernikahan putri dari salah satu pejabat yang kebetulan pimpinan di kantor. Dan mamie sangat menghargai beliau.

Walaupun beberapa waktu lalu mamie memutuskan untuk tak datang di pesta yang pasti ramai dengan tamu-tamu penting, dan orang-orang ‘besar’, alasannya sederhana. Mamie ingin mendoakan dari jauh saja, karena hadir pun tidak akan memberikan nilai lebih kepada keluarga yang punya kedudukan terpandang di masyarakat tersebut

Tetapi tugas dadakan muncul pada last minute, mamie harus membacakan ucapan selamat dari Jepang. Berbagai usaha membujuk staff Jepang agar orang lain saja yang membacakannya tidak berhasil. Mamie merasa kurang pas saja menjadi wakil dari para boss menyampaikan ucapan tersebut, tetapi mereka cuma bilang ‘onegaishimasu’

Tidak ada jalan lain, mamie harus mengorbankan waktu yg dimana seharusnya mamie sediakan untuk melaksanakan takazah (tugas pelayanan) yaitu berhikmad untuk makan malam jamaah masturoh yang datang dari Malaysia.
Dengan tidak enak hati, mamie pamit kepada teman2 yang datang ke rumah untuk memasak menyiapkan santap malam para tamu Allah.

Sepanjang perjalanan gelisah, antara melaksanakan layanan dunia atau layanan akhirat (kerja untuk agama). Tetapi mamie sudah terlanjur mengiyakan kepada staff Jepang dan itu adalah tugas.

Pada saat acara ternyata tidak semulus yang mamie duga, penolakan dari koordinator acara mamie terima. Tetapi terus terang mamie cuma bertanya seperti ini: “Bisa tidak membaca ucapan ini? Jika iya katakan kapan? Jika tidak saya pulang”, so simple menurut mamie, artinya mamie sudah berusaha, sebatas kemampuan. Tetapi rupanya EOnya juga bingung, tapi diantara kebimbangan dia akhirnya mengiyakan karena memang mamie cuma menyampaikan bahwa usulan membaca ucapan ini disampaikan sendiri oleh beliau, orangtua dari mempelai

Suprisingly, mamie sangat tidak terkesan dengan berapa banyak para tamu yang ada di depan mamie, membacakan ucapan dengan santai dan tak terpengaruh dengan keadaan. Alhamdulillah mamie bisa menafikan segala yg ada hanya karena yang namanya amanah

Tetapi yang lucu setelah acara, sang EO itu malah komplain ke mamie, katanya “bu, saya dikomplain keluarga mempelai karena ini tidak ada dalam list acara”
*gubrak*
sejauh mana sih sang EO ini mengambil keputusan dan bertanggungjawab dengan keputusan ini? Mamie kan memberikan pilihan sebelumnya, bisa atau tidak!
Emosi juga akhirnya, bukan apanya.. Mamie sudah meninggalkan kesempatan melayani tamu Allah dan melaksanakan amanah dunia ini
Tapi memang THIS IS the ANSWER

Hal yang bisa mamie dapatkan malam itu adalah:
1. Amanah dunia ternyata tidak menjamin kita menjadi tenang, masih akan terpengaruh dengan pendapat dan persepsi orang lain. Dan sebaik apapun tugas kita laksanakan bisa jadi jelek bagi orang lain. Lalu siapa yang bertanggung jawab untuk itu? Orang yang menyuruh? Sejauh mana? Sepanjang masih mahluk mamie tidak bisa menjamin hal ini

2. Tugas hikmad yang mamie abaikan memberikan pelajaran yang sangat berharga. Mamie kehilangan kesempatan untuk merasa tenang. Melayani orang lain karena Allah, adalah sangat menyejukkan hati. Seletih apapun itu
Karena yakin dengan, jaminan yang Allah berikan atas dasar melakukan agar mendapat ridho dari Allah SWT bukan dari mahluk

3. Mamie merasa malu dengan pilihan bahwa mamie bisa menafikkan dunia hanya untuk tujuan dunia, mengapa mamie tidak bisa melakukan tugas amar ma’ruf nahi mungkar untuk mendapatkan ridho Allah, kasih sayang yang Maha Kuasa. Dipermalukan atas nama Allah, yakin bahwa jaminan Allah tidak akan diingkariNya

4. Dan sepertinya Allah menegur mamie dengan pilihan ini, dengan keadaan yang membuat mamie tidak nyaman. Ya Allah ampuni hambamu ini.

5. Barangsiapa bekerja untuk mahluk maka siap2lah dihinakan, tetapi barangsiapa bekerja untuk Allah maka akan dimuliakan. Kalimat pertama sudah mamie buktikan, dan kalimat yang kedua adalah mamie yakini.

Terakhir mamie cuma bisa berharap semoga Allah memberikan kesempatan untuk melaksanakan takazah agar kesempatan untuk mendapatkan ridho Allah bisa mamie peroleh. Insya Allah

Semoga berkesan dalam hati dan niat amal dan sampaikan insya Allah

Subhahanallah Wabihamdihi, Subhahanakallahuma Wabihamdika, Ashyadu alaa ilaa ha ilaa anta, astaghfiruka wa atubuu ilaih

I La Galigo, kehilangan aura mistis

Mungkin memang sudah dari awal mamie selalu berpikir, kalau jodoh pasti tak lari kemana.

Sebelumnya memang terdengar kasak-kusuk bahwa tiket untuk pertunjunkan ini susah diperoleh, akibat informasi yang tidak jelas
Tetapi dengan tidak sengaja mamie membaca twit dari salah seorang teman dan akhirnya memberi petunjuk untuk bisa memperoleh tiket.

Alhamdulillah bill pembayaran tiket sudah ditangan tinggal menunggu hari H sehingga bisa ditukar dengan tiket.

Sore hari yang hujan sempat membuat kuatir, performance ini diadakan di area terbuka dalam area benteng Fort Rotterdam, tetapi yah percaya gak percaya, sepertinya pawang hujan diminta untuk bekerja memindahkan hujan yg seharusnya turun di tepi pantai ini *mungkin* 😀

Menunggu teman yang menitip tiket juga mamie akhirnya menghabiskan waktu untuk melihat-lihat peninggalan yang berhubungan dengan I La Galilgo ini. Walaupun sudah disampaikan tidak boleh membawa kamera, ada saja orang-orang yang dengan asik memotret. Sebenarnya keinginan itu juga ada dalam diri, ingin mengabadikan, tetapi entah mengapa mamie percaya bahwa peninggalan-peninggalan tersebut akan tergerus cahayanya jika diabadikan, entahlah

Ada satu insiden kecil saat acara, mungkin tidak diduga sama sekali, panggung yang dibuat untuk penonton ada satu bagian yang rubuh mungkin karena overload, beruntung tidak ada yang terluka, tetapi sempat membuat heboh.

Performance secara keseluruhan memukau, permainan lighting, soundsystem, gerak dan alat2 bantu visualisasi membuat kita larut dalam cerita. Beruntung sinopsisnya dibagikan sehingga kita dapat mengikuti alur dari cerita ini.
Semua scene diramu dengan apik, dan membuat kita enggan mengalihkan perhatian kita dari panggung

Scene yang paling memukau adalah yang menggambarkan percintaan, ditampilkan dalam bayang sedemikian rupa sehingga tergambar jelas keadaannya.

Tapi, dari keseluruhan hal-hal yang mamie tangkap dengan panca indera, ada ‘soul’ yang gak berasa. Terus terang mamie mengharapkan aura yang mendebarkan saat menyaksikan aktualisasi epos ini. Suasana mistis tidak terasa, semuanya memang murni pementasan theatre, yah wajar saja karena yang menyajikan tidak ada keterikatan bathin, semaksimal apapun Robert Wilson mendalami cerita ini. Musik yang disajikan tidak murni lagi, komposisi musik tradisional sudah diarransemen dengan alat musik lain. Menurutku akan lebih membuat ‘merinding’ jika dengan iringan sinrilik dan pagandrang saja.
Ah.. Terus terang saya mendambakan originalitas dari cerita I La Galigo ini, pasti akan ‘bernyawa’ dan membuat kita larut dalam alur

Mamie cuma bisa berharap semoga dengan performance ini akan menginisiasi sutradara-sutradara lokal untuk berkarya

Semangat!

Cerita lain dibalik Gempa di Jepang

Hari ini berkesempatan ngumpul-ngumpul sama teman, Rini – kepala sekolah Kaori-bunka en dan Yumeina, sahabat mamie yang “nampung” mamie selama di Matsuyama, Jepang.

Sebenarnya janjian bertemu ini sudah beberapa hari yang lalu, sebelum terjadi bencana di Jepang kemarin. Akibatnya kami jadinya lebih banyak membicarakan tentang keadaan di sana. Yang pertama adalah menanyakan tentang keadaan teman-teman yang ada disana. Kebetulan teman-teman dominan adanya di Fukuoka, Hiroshima dan Matsuyama bagian selatan dari Jepang membuat mereka tidak merasakan langsung efek dari gempa dan tsunami ini. Tetapi beberapa teman juga ada yang tinggal di Tokyo masih ada yang belum kami tahu keadaannya. Adapun yang membalas sms yang dikirim oleh Rini, jawabannya adalah, “mohon doanya, kami takut sekali”. Dengan jawaban tersebut sama sekali tidak membuat kita merasa tenang.

Tetapi diantara keprihatinan yang kami rasakan, keadaan bencana di Jepang juga menimbulkan cerita-cerita yang patut diambil manfaatnya:

1. TERTIB

Diceritakan keadaan di sebuah penampungan yang nampak dari tv news NHK, dimana ada sekitar 600 san orang yang berkumpul di penampungan tersebut duduk di kursi yang diatur theater style, berbaris rapi dan orang-orang yang ditampung pun duduk dengan tenang tidak ada kekacauan yang kadang terlihat di penampungan-penampungan bencana di negara kita.

2. SABAR

Diceritakan juga tentang keadaan yang tidak mendukung dari segi angkutan, oleh karena itu semua orang berusaha untuk memakai taxi, di toko pun demikian karena kebutuhan pasca gempa itu meningkat sehingga toko sangat kewalahan melayani pembelinya. Tetapi apa yang terlihat adalah, mereka dengan sabar mengantri hingga panjangnya sekitar + 1km. Terbayang jika hal tersebut terjadi di negara kita, ada kemungkinan toko tersebut sudah habis dijarah dan kemungkinan orang-orang sudah berebut untuk naik taxi

3. BERSYUKUR

Seorang ibu yang diwawancarai ketika dia diberikan onigiri (nasi jepang yang berbalut rumput laut) berkata, “saya senang sekali mendapatkan makanan ini, minimal saya tidak merasakan lapar lagi untuk sementara”. Padahal cuma segumpal nasi saja yang diterima tanpa ada keluhan sedikit pun. Mungkin mereka paham hal ini terjadi karena alam, sehingga mereka tidak mengeluh dengan keadaan.

Diantara kisah-kisah ini dari sisi akhlak perlu menjadi contoh bagi kita-kita, semoga mereka semua dilindungi, dan bencana gempa yang masih berlangsung ini tidak akan berlanjut lebih fatal lagi. Amin

 

 

Bencana Jepang dan Orang Jepang

Sementara bekerja, mamie dapat info melalui bbm yang masuk dari salah seorang teman tentang gempa di Jepang dan tsunami. Dengan 8.8 SR harusnya sudah merupakan hal yang mengagetkan apalagi disertai tsunami.

Jelas kagetlah mamie dan berusaha mencari kabar tentang hal ini melalui internet. Karena kebetulan seruangan dengan Mr. H yg keluarganya tinggal di Shizuoka, mamie akhirnya bertanya kepada dia. Apakah keluarganya baik-baik saja? Karena setau saya dia tinggal tidak terlalu jauh dari pantai.

Jawabannya saat itu, telepon tak bisa dihubungi, dugaannya mungkin infrastruktur yang rusak ataupun overload karena terpakai oleh banyak orang.

Tetapi saya bertanya lagi, bukannya tadi sempat berbicara dengan orang kantor yang di Shizuoka? Apa mereka baik-baik saja dan apakah tidak sekalian minta tolong untuk ditanyakan keadaan keluarganya.

Sungguh mengagetkan jawabannya,

“Tidak mungkin saya bertanya menyuruh mereka untuk mencari tahu tentang keluarga saya, karena saya menelponnya karena urusan pekerjaan”
*hmm*
Lalu saya bertanya lagi, jika begitu berusahalah cari tahu tentang keluarga dengan cara lain.
Jawaban yang lebih mengagetkan mamie terima;

“Yah kalau mereka ada apa-apa mereka pasti menelpon”

OMG

Bisa bayangkan mamie bekerja dengan orang Jepang yang seperti ini? Apakah karena mereka terlalu patuh akan aturan pemisahaan antara pekerjaan dan hal pribadi.

Yah seandainya hal yang tidak urgent seperti ini sepantasnya memang tidak dilakukan, tetapi saat ini?

Untuk kali ini saya tidak paham apa yang ada dalam pikirannya, walaupun hatinya mungkin sama seperti mamie.. Kuatir, was was dan ingin tahu.

I don’t know

Semoga semuanya baik-baik saja. Amin

#prayforjapan